"Gelombang laut dan bandul lonceng menjadi inspirasi Zamrisyaf. Periset pada Divisi Penelitian dan Pengembangan PT PLN (Persero) ini merancang pembangkit listrik dengan energi gelombang laut yang menggerakkan bandul kemudian diubah menjadi energi penggerak roda gila dan turbin listrik.
Zamrisyaf mendaftarkan teknologi pembangkit listrik tenaga gelombang laut-sistem bandulan (PLTGL-SB) untuk mendapatkan paten sejak tahun 2002".
Kutipan di atas, saya ambil dari sebuah laman nasional. Judulnya membuat saya tertarik "Listrik dari Gelombang Laut Menjanjikan".
Apa yang dilakukan salah seorang periset PLN ini sangat menjanjikan bagi masyarakat Indonesia yang tinggal di pulau-pulau terluar. Rasanya, teknologi ini bisa menjadi pelipur lara mereka yang hingga Indonesia merdeka selama hampir 66 tahun ini belum menikmati fasilitas listrik.
Listrik menjadi barang yang mahal di pulau, masyarakat sudah terbiasa dengan gelap. Orang yang mampu menggunakan mesin genset, sementara yang tak mampu menggunakan pelita minyak tanah. Begitulah kenyataan yang dihadapi masyarakat pulau.
Respon pemerintah sebenarnya sangat cepat untuk masyarakat pulau. Mereka dengan giat melakukan pembangunan, tapi pembangunan salah arah. Kenapa begitu??
Karena pembangunan tidak mencerminkan kebutuhan masyarakat pulau. Kesannya hanya ingin menghabiskan budget anggaran yang tersisa di kas kantornya. Kata lainnya, pembangunan tidak pro rakyat tapi pro kantong pejabat. Itulah kejadian nyata di negeri ini.
Ada pulau yang membutuhkan fasilitas air bersih, malah dibangunkan fasilitas kantor imigrasi. Ada yang butuh SPBU, malah dibuatkan terminal angkutan umum yang luas, padahal mobil angkutan yang ada hanya sedikit. Jelas itu sama saja buang-buang uang untuk kebutuhan yang tidak perlu. Dan masih banyak lagi contohnya.
Kembali ke listrik. Anak-anak pulau butuh untuk bisa melihat dunia luar. Kenapa bisa listrik dijadikan jendela buat melihat dunia luar?? Padahal listrik hanya menghasilkan energi yang bisa menghidupi alat-alat elektronik. Dengan listrik, mereka bisa menonton televisi, mendengarkan radion bahkan membuka internet menggunakan komputer. Sepintas listrik memang bukan kebutuhan pokok, tapi di pulau listrik jadi kebutuhan pokok yang harus dipenuhi jika ingin maju.
Dari listriklah, sumber daya manusia (red-SDM) berkualitas bisa dipenuhi oleh masyarakat pulau. Mereka tak tertinggal beribu-ribu langkah dari teman-teman mereka yang tinggal di kota.
Yang jelas masyarakat pulau butuh listrik. Mereka butuh lebih dari satu orang seperti Zamrisyaf, mau meriset apa yang sebenarnya dibutuhkan masyarakat pulau. Tapi kapankah, teknologi itu bisa direalisasikan?? Jangan-jangan penemuan hanya akan mengisi daftar pustaka tempatnya bekerja. Mudah-mudahan, birokrasi dan administrasi tidak menghalangi pembangunan fasilitas temuan Zamrisyaf..
Salam Ujung Negeri
Selasa, 24 Mei 2011
Senin, 23 Mei 2011
Cerita Dokter di Perbatasan
Wilayah Selatan Kabupaten Belu, NTT, merupakan daerah rawan longsor, banjir. Ketika bencana itu datang, banyak jalan menuju ke Selatan yang terputus, tak heran jika wilayah ini menjadi terisolir.
Kecamatan Kobalima, merupakan salah satu contohnya. Untuk mencapai wilayah ini kita harus menemui jalan yang terputus, tapi untungnya masyarakat membangun jalur alternatif seadanya. Di tengah keterisoliran Kobalima, ada cerita menarik yang bisa kita teladani.
Dokter Delia F, lulusan sebuah universitas di Jakarta ini melakukan pengabdian kerja di puskesmas Namfalus, wilayah yang berbatasan dengan Timor Leste.
Pengalaman sebagai dokter di wilayah perbatasan tidaklah mudah, ketika pertama datang ke sini, ia sudah dihadapkan dengan persediaan obat yang kosong. Sementara puskesmas ini menjadi andalan bagi desa-desa di dekat Namfalus. Puskesmasnya memang terbilang sederhana, tapi memiliki ruang rawat inap pasien.
Kesehatan menjadi barang tabu di sini, tak mudah mengubah perilaku masyarakat yang masih percaya dengan hal-hal di luar medis. Dari pengalaman sang dokter tertutur, pernah ada pasien anak balita yang menderita penyakit kuning. Setelah diperiksa, kondisinya tak memungkinkan untuk dirawat di puskesmas. Pasien harus dirujuk ke rumah sakit di Atambua. Tapi orang tuanya menolak, dengan alasan menurut tetua kami ini disebut horaks "gak boleh diobati, gak boleh disuntik, dll. Hanya boleh disembur-sembur". Berdasarkan logika, mau disembur bagaimanapun, kondisi sang anak akan semakin parah dan bisa menyebabkan kematian. Akhirnya dokter bersama perawat membujuk orang yang dituakan dalam keluarga itu. Barulah pasien boleh dibawa ke rumah sakit. Fenomena ini masih terus terjadi hingga kemajuan teknologi seperti sekarang.
Belum lagi angka kematian ibu dan bayi yang tinggi di wilayah selatan. Banyak masyarakat yang tinggal di dekat puskesmas, enggan melahirkan dengan bantuan medis. Seperti yang terjadi bayi maria, sang ibu baru meminta bantuan medis ketika tali pusar bayi tak mau lepas. Padahal jarak rumah ke puskesmas hanya 500 meter. Setelah dilakukan pemeriksaan medis, kandungan ibunya sudah turun. Bayi dan sang ibu pun harus dirujuk ke atambua. Perjalanan menggunakan ambulance puskesmas mengalami banyak gangguan. Karena jalan yang dilalui banyak yang terputus, apalagi wilayah selatan sering diguyur hujan. Kejadian melahirkan di rumah sendiri menjadi hal yang biasa di Namfalus dan sekitarnya.
Setiap hari Kamis, adalah hari besar bagi masyarakat Alas, yang berada di atas perbukitan. Bagi dokter, ia harus menyambangi puskesmas Alas untuk melakukan praktek. Biasanya bisa puluhan orang rela antri berobat yang hanya dilakukan sekali tiap minggunya, kecuali ada panggilan darurat. Menggunakan sepeda motor bantuan pemerintah, dokter membelah jalan tanah dan hutan menuju desa Alas. Sampai di sana, ia langsung mengobati seorang ibu yang mengalami luka di kaki. Setelah berkonsultasi, pasien ternyata mengobati lukanya yang gatal dengan cara dibakar. Kaget jelas dokter mendengarnya, dari mulutnya terucap "kenapa gak ditambahin bawang, cabe, sekalian dimasak". Dibakar menggunakan api dari kayu bakar jelas membuat luka itu makin menjadi, bisa-bisa malah infeksi. Akhirnya luka dibersihkan dan kemudian diberi salep. Tak lupa dibungkus perban untuk menghindari kontak dengan debu. Beginilah pasien di desa Alas, lebih terkebelakang dibandingkan desa Namfalus.
Bagi masyarakat yang tinggal di pegunungan, mereka tidak yakin Indonesia sudah merdeka. Kenapa?? Karena sampai saat ini untuk kesehatan dan sekolah pun sangat susah.
Sekolah di Kobaliman, hanya ada SD dan SMP Katolik. Itupun dengan segala keterbatasan. Bangunannya sudah tak layak untuk kegiatan belajar-mengajar. Tak ada buku penunjang, mau maju berawal dari guru. Karena hanya guru yang memegang buku penunjang mata pelajaran. Mereka harus rajin mencatat. Komputer tidak bisa dinyalakan, karena listrik belum menjangkau kawasan ini. Pemerintah hanya membantu menyediakan mesin genset, sekolah harus keluar biaya banyak untuk BBM, lantaran sekolah dilakukan hingga jam 9 malam. Selain itu, bantuan buku bukannya buku penunjang. Tapi buku cerita yang terkait mata pelajaran. Sungguh menyedihkan?? Jangan heran kalau sumber daya manusia (red-SDM) di wilayah Selatan sangat terbelakang.
Untuk air bersih pun mereka harus mengambil puluhan kilometer. Itupun digunakan untuk masyarakat desa.
Tugas di perbatasan memang berat. Dokter Delia pun pernah merasakan hopeless, tapi kalau dia begitu bagaimana bisa menangani pasien. Semua dokter hanya bisa berharap, agar semua masyarakat sehat. Caranya?? Setiap minggu, ia pun melakukan penyuluhan tentang bagaimana pentingnya menjaga kesehatan ke masyarakat. Supaya kesehatan tidak tabu bagi mereka...
Salam Ujung Negeri
Kecamatan Kobalima, merupakan salah satu contohnya. Untuk mencapai wilayah ini kita harus menemui jalan yang terputus, tapi untungnya masyarakat membangun jalur alternatif seadanya. Di tengah keterisoliran Kobalima, ada cerita menarik yang bisa kita teladani.
Dokter Delia F, lulusan sebuah universitas di Jakarta ini melakukan pengabdian kerja di puskesmas Namfalus, wilayah yang berbatasan dengan Timor Leste.
Pengalaman sebagai dokter di wilayah perbatasan tidaklah mudah, ketika pertama datang ke sini, ia sudah dihadapkan dengan persediaan obat yang kosong. Sementara puskesmas ini menjadi andalan bagi desa-desa di dekat Namfalus. Puskesmasnya memang terbilang sederhana, tapi memiliki ruang rawat inap pasien.
Kesehatan menjadi barang tabu di sini, tak mudah mengubah perilaku masyarakat yang masih percaya dengan hal-hal di luar medis. Dari pengalaman sang dokter tertutur, pernah ada pasien anak balita yang menderita penyakit kuning. Setelah diperiksa, kondisinya tak memungkinkan untuk dirawat di puskesmas. Pasien harus dirujuk ke rumah sakit di Atambua. Tapi orang tuanya menolak, dengan alasan menurut tetua kami ini disebut horaks "gak boleh diobati, gak boleh disuntik, dll. Hanya boleh disembur-sembur". Berdasarkan logika, mau disembur bagaimanapun, kondisi sang anak akan semakin parah dan bisa menyebabkan kematian. Akhirnya dokter bersama perawat membujuk orang yang dituakan dalam keluarga itu. Barulah pasien boleh dibawa ke rumah sakit. Fenomena ini masih terus terjadi hingga kemajuan teknologi seperti sekarang.
Belum lagi angka kematian ibu dan bayi yang tinggi di wilayah selatan. Banyak masyarakat yang tinggal di dekat puskesmas, enggan melahirkan dengan bantuan medis. Seperti yang terjadi bayi maria, sang ibu baru meminta bantuan medis ketika tali pusar bayi tak mau lepas. Padahal jarak rumah ke puskesmas hanya 500 meter. Setelah dilakukan pemeriksaan medis, kandungan ibunya sudah turun. Bayi dan sang ibu pun harus dirujuk ke atambua. Perjalanan menggunakan ambulance puskesmas mengalami banyak gangguan. Karena jalan yang dilalui banyak yang terputus, apalagi wilayah selatan sering diguyur hujan. Kejadian melahirkan di rumah sendiri menjadi hal yang biasa di Namfalus dan sekitarnya.
Setiap hari Kamis, adalah hari besar bagi masyarakat Alas, yang berada di atas perbukitan. Bagi dokter, ia harus menyambangi puskesmas Alas untuk melakukan praktek. Biasanya bisa puluhan orang rela antri berobat yang hanya dilakukan sekali tiap minggunya, kecuali ada panggilan darurat. Menggunakan sepeda motor bantuan pemerintah, dokter membelah jalan tanah dan hutan menuju desa Alas. Sampai di sana, ia langsung mengobati seorang ibu yang mengalami luka di kaki. Setelah berkonsultasi, pasien ternyata mengobati lukanya yang gatal dengan cara dibakar. Kaget jelas dokter mendengarnya, dari mulutnya terucap "kenapa gak ditambahin bawang, cabe, sekalian dimasak". Dibakar menggunakan api dari kayu bakar jelas membuat luka itu makin menjadi, bisa-bisa malah infeksi. Akhirnya luka dibersihkan dan kemudian diberi salep. Tak lupa dibungkus perban untuk menghindari kontak dengan debu. Beginilah pasien di desa Alas, lebih terkebelakang dibandingkan desa Namfalus.
Bagi masyarakat yang tinggal di pegunungan, mereka tidak yakin Indonesia sudah merdeka. Kenapa?? Karena sampai saat ini untuk kesehatan dan sekolah pun sangat susah.
Sekolah di Kobaliman, hanya ada SD dan SMP Katolik. Itupun dengan segala keterbatasan. Bangunannya sudah tak layak untuk kegiatan belajar-mengajar. Tak ada buku penunjang, mau maju berawal dari guru. Karena hanya guru yang memegang buku penunjang mata pelajaran. Mereka harus rajin mencatat. Komputer tidak bisa dinyalakan, karena listrik belum menjangkau kawasan ini. Pemerintah hanya membantu menyediakan mesin genset, sekolah harus keluar biaya banyak untuk BBM, lantaran sekolah dilakukan hingga jam 9 malam. Selain itu, bantuan buku bukannya buku penunjang. Tapi buku cerita yang terkait mata pelajaran. Sungguh menyedihkan?? Jangan heran kalau sumber daya manusia (red-SDM) di wilayah Selatan sangat terbelakang.
Untuk air bersih pun mereka harus mengambil puluhan kilometer. Itupun digunakan untuk masyarakat desa.
Tugas di perbatasan memang berat. Dokter Delia pun pernah merasakan hopeless, tapi kalau dia begitu bagaimana bisa menangani pasien. Semua dokter hanya bisa berharap, agar semua masyarakat sehat. Caranya?? Setiap minggu, ia pun melakukan penyuluhan tentang bagaimana pentingnya menjaga kesehatan ke masyarakat. Supaya kesehatan tidak tabu bagi mereka...
Salam Ujung Negeri
Rabu, 13 April 2011
Kamis, 31 Maret 2011
Ujung Negeri (Eps. Pulau Sebatik)
Ujung Negeri
Episode Pulau Sebatik
Sebatik adalah pulau terluar Indonesia yang menyimpan banyak potensi. Pulau yang masuk di Kabupaten Nunukan ini berbatasan langsung dengan Tawau, Malaysia.
Menuju Pulau Sebatik ditempuh menggunakan perahu boat dengan waktu tempuh 2,5 jam dari Tarakan atau 30 menit dari Nunukan. Tim Ujung Negeri (Reporter: Golda Naya/ Camera Person: Febri Nalias) masuk melalui Tarakan. Pelabuhan Tangkayu, tak pernah sepi dari hiruk pikuk kapal boat.
Untuk menuju ke Pulau Sebatik, kita tidak boleh melupakan jadwal keberangkatan kapal boat. Pukul 13.30 WITA, adalah waktu keberangkatan kapal boat terakhir menuju ke pelabuhan Sei Senyamuk. Karena lewat dari jam itu, ombak tinggi seringkali menghantam kapal-kapal pengangkut penumpang. Biaya setiap penumpangnya menuju Sebatik 175 ribu.
Tiba di Sei Senyamuk, banyak mini boat yang menawarkan jasa mengantar menuju Tawa, Malaysia. Bepergian ke sana tidaklah sulit, mereka tinggal mendatangi kantor imigrasi dan meminta cap di buku pas lintas batas.
Tim yang tiba sore hari hanya disuguhkan pemandangan kantor imigrasi yang lusuh dengan kondisi dermaga yang ambrol. Maklum, operasional kantor hingga jam 17.00 WITA.
Penduduk Sebatik memang serba Malaysia, bahkan hingga kebutuhan pokok. Memang bukan hal yang aneh, karena Sebatik bagian Utara adalah wilayah kekuasaan Malaysia. Sedangkan Indonesia menempati Sebatik bagian Selatan.
Kampung Aji Kuning, adalah contoh bagaimana Sebatik terbagi dalam 2 negara. Batas kampung ini ditandai dengan patok semen yang hampir tak terlihat dan pos pengamanan perbatasan yang kecil dan tak terawat.
Selain soal patok batas negara, sungai Aji Kuning juga masih menjadi problem yang tak pernah usai. Warga kedua negara dengan bebas keluar masuk tanpa dokumen apapun.
Banyak warga Indonesia yang rumahnya berada di dalam wilayah 2 negara. Rumah bapak Mapangara, separuhnya berada di Indonesia, sedangkan separuh lainnya yang berfungsi sebagai dapur berada di wilayah Malaysia.
Kebanyakan penduduk Sebatik dulunya menempati rumah di wilayah Indonesia. Karena dianggap terlalu kecil, mereka membangun bagian lain rumah di negara jiran. Banyak rumah penduduk yang tak memiliki sertifikat.
Ibu Hana adalah warga Indonesia yang menyewa rumah di wilayah Aji Kuning milik Malaysia. Wanita asal Bone ini tinggal di Malaysia, tapi memiliki KTP Indonesia.
Pemandangan serupa juga bisa dijumpai di kampung Sei Melayu. Untuk mencapainya bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Tapi kita harus meminta izin petugas jaga perbatasan Malaysia.
Banyak warga Indonesia yang ingin berubah kewarganegaraannya menjadi Malaysia. Ibu Darmawati yang tim temui tinggal menunggu ijin mendapatkan kewarganegaraan negeri jiran, karena ia punya penjamin adiknya yang bekerja di Tawau. Tapi tetap saja, Darma tetap mempertahankan KTP Indonesia.
Mata pencaharian penduduk Sebatik adalah berkebun. Salah satu andalannya adalah pisang. Pisang ini dipasarkan langsung ke Tawau, karena harganya yang tinggi.
Selepas Shubuh, para petani mengunakan speed boat mengangkut hasil kebun ke palabuhan Tanjung Batu, Malaysia. Mereka memilih sampai di sana pagi, karena kalau kesiangan hasil kebun tak akan dibeli.
Untuk menjaga wilayah NKRI, tentara yang ditugaskan di batas negara ini seringkali melakukan patroli dan membantu penduduk. Mereka seringkali menjadi guru bahasa Inggris dan agama Islam bagi anak-anak Sebatik.
Untuk membuktikan benarkah banyak warga Indonesia yang pindah kewarganegaraan, tim pun berangkat menuju Tawau. Setiap penumpang harus membayar 15 RM untuk sekali perjalanan. Ternyata Tawau menjadi magnet penduduk Sebatik.
Sentra perdagangan Tawau dihuni banyak pedagang asal Indonesia. Semua hasil bumi Indonesia dari wilayah Sebatik dijajakan di sini. Dan banyak pedagang yang pindah kewarganegaraan Malaysia karena kehidupan lebih terjamin.
Ujung Negeri (Eps. Pulau Sebatik)
Ujung Negeri
Episode Pulau Sebatik
Sebatik adalah pulau terluar Indonesia yang menyimpan banyak potensi. Pulau yang masuk di Kabupaten Nunukan ini berbatasan langsung dengan Tawau, Malaysia.
Menuju Pulau Sebatik ditempuh menggunakan perahu boat dengan waktu tempuh 2,5 jam dari Tarakan atau 30 menit dari Nunukan. Tim Ujung Negeri (Reporter: Golda Naya/ Camera Person: Febri Nalias) masuk melalui Tarakan. Pelabuhan Tangkayu, tak pernah sepi dari hiruk pikuk kapal boat.
Untuk menuju ke Pulau Sebatik, kita tidak boleh melupakan jadwal keberangkatan kapal boat. Pukul 13.30 WITA, adalah waktu keberangkatan kapal boat terakhir menuju ke pelabuhan Sei Senyamuk. Karena lewat dari jam itu, ombak tinggi seringkali menghantam kapal-kapal pengangkut penumpang. Biaya setiap penumpangnya menuju Sebatik 175 ribu.
Tiba di Sei Senyamuk, banyak mini boat yang menawarkan jasa mengantar menuju Tawa, Malaysia. Bepergian ke sana tidaklah sulit, mereka tinggal mendatangi kantor imigrasi dan meminta cap di buku pas lintas batas.
Tim yang tiba sore hari hanya disuguhkan pemandangan kantor imigrasi yang lusuh dengan kondisi dermaga yang ambrol. Maklum, operasional kantor hingga jam 17.00 WITA.
Penduduk Sebatik memang serba Malaysia, bahkan hingga kebutuhan pokok. Memang bukan hal yang aneh, karena Sebatik bagian Utara adalah wilayah kekuasaan Malaysia. Sedangkan Indonesia menempati Sebatik bagian Selatan.
Kampung Aji Kuning, adalah contoh bagaimana Sebatik terbagi dalam 2 negara. Batas kampung ini ditandai dengan patok semen yang hampir tak terlihat dan pos pengamanan perbatasan yang kecil dan tak terawat.
Selain soal patok batas negara, sungai Aji Kuning juga masih menjadi problem yang tak pernah usai. Warga kedua negara dengan bebas keluar masuk tanpa dokumen apapun.
Banyak warga Indonesia yang rumahnya berada di dalam wilayah 2 negara. Rumah bapak Mapangara, separuhnya berada di Indonesia, sedangkan separuh lainnya yang berfungsi sebagai dapur berada di wilayah Malaysia.
Kebanyakan penduduk Sebatik dulunya menempati rumah di wilayah Indonesia. Karena dianggap terlalu kecil, mereka membangun bagian lain rumah di negara jiran. Banyak rumah penduduk yang tak memiliki sertifikat.
Ibu Hana adalah warga Indonesia yang menyewa rumah di wilayah Aji Kuning milik Malaysia. Wanita asal Bone ini tinggal di Malaysia, tapi memiliki KTP Indonesia.
Pemandangan serupa juga bisa dijumpai di kampung Sei Melayu. Untuk mencapainya bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Tapi kita harus meminta izin petugas jaga perbatasan Malaysia.
Banyak warga Indonesia yang ingin berubah kewarganegaraannya menjadi Malaysia. Ibu Darmawati yang tim temui tinggal menunggu ijin mendapatkan kewarganegaraan negeri jiran, karena ia punya penjamin adiknya yang bekerja di Tawau. Tapi tetap saja, Darma tetap mempertahankan KTP Indonesia.
Mata pencaharian penduduk Sebatik adalah berkebun. Salah satu andalannya adalah pisang. Pisang ini dipasarkan langsung ke Tawau, karena harganya yang tinggi.
Selepas Shubuh, para petani mengunakan speed boat mengangkut hasil kebun ke palabuhan Tanjung Batu, Malaysia. Mereka memilih sampai di sana pagi, karena kalau kesiangan hasil kebun tak akan dibeli.
Untuk menjaga wilayah NKRI, tentara yang ditugaskan di batas negara ini seringkali melakukan patroli dan membantu penduduk. Mereka seringkali menjadi guru bahasa Inggris dan agama Islam bagi anak-anak Sebatik.
Untuk membuktikan benarkah banyak warga Indonesia yang pindah kewarganegaraan, tim pun berangkat menuju Tawau. Setiap penumpang harus membayar 15 RM untuk sekali perjalanan. Ternyata Tawau menjadi magnet penduduk Sebatik.
Sentra perdagangan Tawau dihuni banyak pedagang asal Indonesia. Semua hasil bumi Indonesia dari wilayah Sebatik dijajakan di sini. Dan banyak pedagang yang pindah kewarganegaraan Malaysia karena kehidupan lebih terjamin.
Ujung Negeri (Eps. Pulau Sebatik)
Ujung Negeri
Episode Pulau Sebatik
Sebatik adalah pulau terluar Indonesia yang menyimpan banyak potensi. Pulau yang masuk di Kabupaten Nunukan ini berbatasan langsung dengan Tawau, Malaysia.
Menuju Pulau Sebatik ditempuh menggunakan perahu boat dengan waktu tempuh 2,5 jam dari Tarakan atau 30 menit dari Nunukan. Tim Ujung Negeri (Reporter: Golda Naya/ Camera Person: Febri Nalias) masuk melalui Tarakan. Pelabuhan Tangkayu, tak pernah sepi dari hiruk pikuk kapal boat.
Untuk menuju ke Pulau Sebatik, kita tidak boleh melupakan jadwal keberangkatan kapal boat. Pukul 13.30 WITA, adalah waktu keberangkatan kapal boat terakhir menuju ke pelabuhan Sei Senyamuk. Karena lewat dari jam itu, ombak tinggi seringkali menghantam kapal-kapal pengangkut penumpang. Biaya setiap penumpangnya menuju Sebatik 175 ribu.
Tiba di Sei Senyamuk, banyak mini boat yang menawarkan jasa mengantar menuju Tawa, Malaysia. Bepergian ke sana tidaklah sulit, mereka tinggal mendatangi kantor imigrasi dan meminta cap di buku pas lintas batas.
Tim yang tiba sore hari hanya disuguhkan pemandangan kantor imigrasi yang lusuh dengan kondisi dermaga yang ambrol. Maklum, operasional kantor hingga jam 17.00 WITA.
Penduduk Sebatik memang serba Malaysia, bahkan hingga kebutuhan pokok. Memang bukan hal yang aneh, karena Sebatik bagian Utara adalah wilayah kekuasaan Malaysia. Sedangkan Indonesia menempati Sebatik bagian Selatan.
Kampung Aji Kuning, adalah contoh bagaimana Sebatik terbagi dalam 2 negara. Batas kampung ini ditandai dengan patok semen yang hampir tak terlihat dan pos pengamanan perbatasan yang kecil dan tak terawat.
Selain soal patok batas negara, sungai Aji Kuning juga masih menjadi problem yang tak pernah usai. Warga kedua negara dengan bebas keluar masuk tanpa dokumen apapun.
Banyak warga Indonesia yang rumahnya berada di dalam wilayah 2 negara. Rumah bapak Mapangara, separuhnya berada di Indonesia, sedangkan separuh lainnya yang berfungsi sebagai dapur berada di wilayah Malaysia.
Kebanyakan penduduk Sebatik dulunya menempati rumah di wilayah Indonesia. Karena dianggap terlalu kecil, mereka membangun bagian lain rumah di negara jiran. Banyak rumah penduduk yang tak memiliki sertifikat.
Ibu Hana adalah warga Indonesia yang menyewa rumah di wilayah Aji Kuning milik Malaysia. Wanita asal Bone ini tinggal di Malaysia, tapi memiliki KTP Indonesia.
Pemandangan serupa juga bisa dijumpai di kampung Sei Melayu. Untuk mencapainya bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Tapi kita harus meminta izin petugas jaga perbatasan Malaysia.
Banyak warga Indonesia yang ingin berubah kewarganegaraannya menjadi Malaysia. Ibu Darmawati yang tim temui tinggal menunggu ijin mendapatkan kewarganegaraan negeri jiran, karena ia punya penjamin adiknya yang bekerja di Tawau. Tapi tetap saja, Darma tetap mempertahankan KTP Indonesia.
Mata pencaharian penduduk Sebatik adalah berkebun. Salah satu andalannya adalah pisang. Pisang ini dipasarkan langsung ke Tawau, karena harganya yang tinggi.
Selepas Shubuh, para petani mengunakan speed boat mengangkut hasil kebun ke palabuhan Tanjung Batu, Malaysia. Mereka memilih sampai di sana pagi, karena kalau kesiangan hasil kebun tak akan dibeli.
Untuk menjaga wilayah NKRI, tentara yang ditugaskan di batas negara ini seringkali melakukan patroli dan membantu penduduk. Mereka seringkali menjadi guru bahasa Inggris dan agama Islam bagi anak-anak Sebatik.
Untuk membuktikan benarkah banyak warga Indonesia yang pindah kewarganegaraan, tim pun berangkat menuju Tawau. Setiap penumpang harus membayar 15 RM untuk sekali perjalanan. Ternyata Tawau menjadi magnet penduduk Sebatik.
Sentra perdagangan Tawau dihuni banyak pedagang asal Indonesia. Semua hasil bumi Indonesia dari wilayah Sebatik dijajakan di sini. Dan banyak pedagang yang pindah kewarganegaraan Malaysia karena kehidupan lebih terjamin.
Ujung Negeri (Eps. Pulau Sebatik)
Ujung Negeri
Episode Pulau Sebatik
Sebatik adalah pulau terluar Indonesia yang menyimpan banyak potensi. Pulau yang masuk di Kabupaten Nunukan ini berbatasan langsung dengan Tawau, Malaysia.
Menuju Pulau Sebatik ditempuh menggunakan perahu boat dengan waktu tempuh 2,5 jam dari Tarakan atau 30 menit dari Nunukan. Tim Ujung Negeri (Reporter: Golda Naya/ Camera Person: Febri Nalias) masuk melalui Tarakan. Pelabuhan Tangkayu, tak pernah sepi dari hiruk pikuk kapal boat.
Untuk menuju ke Pulau Sebatik, kita tidak boleh melupakan jadwal keberangkatan kapal boat. Pukul 13.30 WITA, adalah waktu keberangkatan kapal boat terakhir menuju ke pelabuhan Sei Senyamuk. Karena lewat dari jam itu, ombak tinggi seringkali menghantam kapal-kapal pengangkut penumpang. Biaya setiap penumpangnya menuju Sebatik 175 ribu.
Tiba di Sei Senyamuk, banyak mini boat yang menawarkan jasa mengantar menuju Tawa, Malaysia. Bepergian ke sana tidaklah sulit, mereka tinggal mendatangi kantor imigrasi dan meminta cap di buku pas lintas batas.
Tim yang tiba sore hari hanya disuguhkan pemandangan kantor imigrasi yang lusuh dengan kondisi dermaga yang ambrol. Maklum, operasional kantor hingga jam 17.00 WITA.
Penduduk Sebatik memang serba Malaysia, bahkan hingga kebutuhan pokok. Memang bukan hal yang aneh, karena Sebatik bagian Utara adalah wilayah kekuasaan Malaysia. Sedangkan Indonesia menempati Sebatik bagian Selatan.
Kampung Aji Kuning, adalah contoh bagaimana Sebatik terbagi dalam 2 negara. Batas kampung ini ditandai dengan patok semen yang hampir tak terlihat dan pos pengamanan perbatasan yang kecil dan tak terawat.
Selain soal patok batas negara, sungai Aji Kuning juga masih menjadi problem yang tak pernah usai. Warga kedua negara dengan bebas keluar masuk tanpa dokumen apapun.
Banyak warga Indonesia yang rumahnya berada di dalam wilayah 2 negara. Rumah bapak Mapangara, separuhnya berada di Indonesia, sedangkan separuh lainnya yang berfungsi sebagai dapur berada di wilayah Malaysia.
Kebanyakan penduduk Sebatik dulunya menempati rumah di wilayah Indonesia. Karena dianggap terlalu kecil, mereka membangun bagian lain rumah di negara jiran. Banyak rumah penduduk yang tak memiliki sertifikat.
Ibu Hana adalah warga Indonesia yang menyewa rumah di wilayah Aji Kuning milik Malaysia. Wanita asal Bone ini tinggal di Malaysia, tapi memiliki KTP Indonesia.
Pemandangan serupa juga bisa dijumpai di kampung Sei Melayu. Untuk mencapainya bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Tapi kita harus meminta izin petugas jaga perbatasan Malaysia.
Banyak warga Indonesia yang ingin berubah kewarganegaraannya menjadi Malaysia. Ibu Darmawati yang tim temui tinggal menunggu ijin mendapatkan kewarganegaraan negeri jiran, karena ia punya penjamin adiknya yang bekerja di Tawau. Tapi tetap saja, Darma tetap mempertahankan KTP Indonesia.
Mata pencaharian penduduk Sebatik adalah berkebun. Salah satu andalannya adalah pisang. Pisang ini dipasarkan langsung ke Tawau, karena harganya yang tinggi.
Selepas Shubuh, para petani mengunakan speed boat mengangkut hasil kebun ke palabuhan Tanjung Batu, Malaysia. Mereka memilih sampai di sana pagi, karena kalau kesiangan hasil kebun tak akan dibeli.
Untuk menjaga wilayah NKRI, tentara yang ditugaskan di batas negara ini seringkali melakukan patroli dan membantu penduduk. Mereka seringkali menjadi guru bahasa Inggris dan agama Islam bagi anak-anak Sebatik.
Untuk membuktikan benarkah banyak warga Indonesia yang pindah kewarganegaraan, tim pun berangkat menuju Tawau. Setiap penumpang harus membayar 15 RM untuk sekali perjalanan. Ternyata Tawau menjadi magnet penduduk Sebatik.
Sentra perdagangan Tawau dihuni banyak pedagang asal Indonesia. Semua hasil bumi Indonesia dari wilayah Sebatik dijajakan di sini. Dan banyak pedagang yang pindah kewarganegaraan Malaysia karena kehidupan lebih terjamin.
Langganan:
Postingan (Atom)